PERNIKAHAN DAN PERBUDAKAN


PERNIKAHAN DAN PERBUDAKAN

"Kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba sahayamu. Jika mereka miskin maka Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nuur 24:32)

"Hendaklah orang-orang yang belum mampu kawin bersabar sampai Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan orang-orang yang mencari ketetapan (nikah) dari yang dimiliki tata hukummu hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berilah mereka dari harta yang Allah berikan padamu.Janganlah kamu memaksa yang termasuk tata hukummu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian hanya karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi.Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah sesudah pemaksaan itu adalah Pengampun dan Penyayang". (QS. An-Nuur 24:33)

Hamba sahaya pada ayat 24:32 ialah para pekerja yang sudah memiliki
persyaratan untuk menikah secara garis hukum Islam, hamba sahaya berbeda dengan budak.

Tanda-Tanda Kiamat

TANDA-TANDA KIAMAT 
Turunnya Isa al-Masih dan Dajjal

Rasulullah Muhammad Saw al-Amin sang Paraclete telah bersabda:
"Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga matahari terbit dari arah barat. Maka apabila matahari sudah terbit dari arah barat, lalu para manusiapun akan beriman seluruhnya. Tetapi kelakuan mereka yang demikian pada waktu itu sudah tidak berguna lagi, keimanan seseorang yang belum pernah beriman sebelum peristiwa tersebut atau memang belum pernah berbuat kebaikan dengan keimanan yang sudah dimilikinya itu." (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Abu Daud dari Abu Hurairah)

Asal-usul Jahiliyah Modern dan Pembentukkannya

Asal-usul Jahiliyah Modern dan Pembentukkannya

Eropa membanggakan kemodernan dengan kebodohannya, dan Eropa berpendapat bahwasanya modernisasi sesuatu yang bukan ditinggalkan dalam sejarah. Dan bahwasanya tidak ada keberadaan suatu umat yang menonjol ( nampak ) seperti modernisasi. Dan Eropa berpendapat bahwa modernisasi adalah mengumpulkan kebaikan-kebaikan yang ada.

Pada saat keagungganya yang menganggap dirinya dari ajaran Kristen lalu ia menekankan sebuah kebesaran yang dinamakan Christian Civilization ( peradaban Kristen ), akan tetapi ia kembali di nisbahkan kepada sebuah peradaban Greco-Roman, katanya: sesungguhnya asal-usul semuanya bersumber, dari sana dan pada stiap keadaan, mereka selalu mengingkari pengaruh Islam dan peradaban Islam dalam membangun ( pusat ) sesuatu yang baru, dan kemajukannya sampai merata.

Dan sebenarnya atas Jahiliyah modern ini telah memgumpulkan bermacam-macam  sumber dan mempengaruhi sesuatu., mereka berkumpul antara yang baik dan yang buruk dan sesungguhnya keburukan menguasai pada akhirnya.dikarnakan kejauhanya kepada allah. Dan mereka menolak segala sesuatui yang datang dengan jalan wahyu Allah.

Suatu hal yang oleh karenanya ia digolongkan pada jahiliyah, dan tidak ada manfaat sisi-sisi baik yang ada padanya.
Dan apabila kita telah mengikuti perkembangan sejarah Jahiliyah modern, maka akan menjelaskan kita asal-usul serta pembentukanya. dan sumber yang mempengaruhi dalam bentuk  yang menyerupainya.

Pada dasarnya yang paling berkuasa dalam pokok-pokok Jahiliyah adakah Agama Gereja. pokok-pokok Yunani Romawi telah hilang dan menjadikan kezaman bagi Eropa yang mana telah diceritakan pada kisah penindasan dan kebodohan Agama Kristen itulah puncak Agama Samawi ( yang diturunkan Allah ) pokok-pokok itu memindahkannya dari agama Tauhid pada agama Trinitas dan kesyirikan, dan bagian dari aqidahnya diambil dari syariat yang dianjurkan kepada manusia akidah itu dengan tanpa sadar. 

Sesungguhnya hakikat bahasa latin adalah bahasa agama resmi  dan bahasan bahasa Yunani adalah bahasa alam dan bahasa peradaban akan tetapi pandangan keduanya itu menjadikan makna penyempitan yang terus-menerus dan menjadikan manusia untuk merubahnya dari pengertian dan mereka tenggelam pada kesesatan sehingga datanglah Islam untuk membangkitkan mereka. Sebagaimana ditulis dalam sejarah Eropa bahwa terjadinya perselisihan dengan orang-orang muslim membangkitkan orang-orang Eropa dari ketepurukannya, kecuali orang-orang yang sulit, akan tetapi kebanyakan dari mereka itu kembali ( bangkit bahwa orang-orang  Eropa ) ketika terjadi perselihan dengan orang-orang muslim, dimana mereka mendapat pusaka dari orang-orang Yunani yang terjaga maka kembalilah mereka pada dasar kezaliman gereja. kekeliruan itu mencakup atas kumpulan dari beberapa kekeliruan. tidak ada kekeliruan didalamnya - menurutku  - itu dinamakan Filsafat Islam, yaitu pemikiran orang-orang Yunani yang diperoleh dari tema-tema slam atau paling sedikitnya tampak bagi slam kekhususan kebiasaan Barat terhadap Islam, yaitu  ilsafat Yunani dan  Yunani.

    Daripada yang tidak ada keraguan didalamnya, menurut saya: “sesungguhnya apa yang disebut dengan filsafat Islam ialah pemikiran orang-orang greek ( yunani) yang mempelajari keislaman. Mengangkat….. sesunggguhnya ia memperlihatkan kepada Islam melalui sarana yang aneh bagi Islam, yaitu filsafat greek(yunani) dan logika yunani.

    Daripada apa yang tidak diragukan juga bahwa eropa ketika mengirim utusannya untuk belajar disekolah-sekolah Islam di andalusia, afrika utara, sicillia, dan negara-negara timur, dan ketika eropa menterjemahkan buku-buku Islam. Telah ditemukan dari apa yang didapatkan. Lagi-lagi terdapat warisan greek dalam terjemahan bahasa arab pada buku-buku filsafat Islam yang dimasukkan beberapa tambahan. Maka sampailah hal itu antara Islam dan warisan greek yang telah mati/hilang atau terlupakan pada masa kegelapan gereja.

    Akan tetapi pernyataan/statement bahwa hal inilah yang membangkitkan eropa hanyalah bualan/ omong kosong besar yang menipu dan mengingkari kebaikan yang tidak ingin mengenal/mengetahui kebenaran. dan kebenaran itu meliputi setiap sisinya.

    Maka sesungguhnya warisan bangsa greek (roma,yunani) yang sebenarnya telah berdiri dan masih dalam jangkauan orang-orang eropa pada masa-masa kegelapan. Maka bukanlah hal itu (warisan greek) yang membangunkan mereka dari tidur mereka. Dan tidak membentangkan tangannya / kekuasaannya untuk menggapainya.

Akan tetapi yang membangunkan mereka ialah Islam!
Baik perseteruan mereka dengan Islam dan orang muslim yaitu perseteruan perdamain di andalus, atau perselisihan perang di perang salib, maka perseteruan ini telah membuat mereka merasa dalam kegelap[an dan keterbelakangan, dan menggerakkan/ menusuk mereka kepada keinginan hidup dengan menjaga bahwa mereka telah tertidur lama yang menyerupai mati.
    Berkata faero……tentang pengaruh orang Islam pada kekayaan-kekayaan andalus “ orang-orang kristen senang dengan syair-syair arab dan kisah-kisah nya, maka mereka mempelajari buku-buku fuqaha/fiqh dan buku-buku filsafat yang terpuji tidak untuk membantahnya akan tetapi untuk mencapai/ mendapatkan susunan gaya bahsa arab yang benar dan tepat. Sekarang dimanakah sekularis membaca komentar-komentar latin atas kitab- kitab suci?, dan dimanakah orang yang mempelajari injil dan kitab nabi-nabi dan rasul. Maka betapa ironisnya/ sedihnya.! Sesungguhnya pemuda-pemuda kristen yang mengeluarkan/ memberikan banyak ppemberian pada manusia tidak atas ilmu dengan etika atau sastra dan tidak dengan suatu bahasa selain bahsa arab. Maka mereka membaca kitab-kitab arab dan mempelajarinya dengan suka cita,dan mereka mengumpulkan perpustakaan yang lengkap yang membutuhkan/ menarik biaya yang memberatkan dan mereka mendendangkan dengan memuji budaya arab disetiap tempat. Dan anda akan melihat mereka dari sisi lain mereka berargumentasi pada kunjungan jika anda mengingatkan pada mereka tentang buku-buku kristen yang dianggap tidak pantas/ layak dengan perhatian mereka maka hal itu menyakitkan hati mereka! Orang-orang kristen telah lupa pada bahsanya, dan hampir tidak ada satupun dari seribu orang yang mampu membuat risalah yang benar denagn bahasa latin yang tepat dan benar, akan tetapi jika dipanggil atau dihadapkan pada masalah penulisan bahasa arab, mak banyak lah dari mereka yang mampu menta’birkan tentang masalah itu dengan bahasa itu pula, dengan kemuliaan / keagungan apa-apa yang menjadikan kecermatannya. Bahkan mereka kadang melantunkan syair arab dimana ia mengutamakan kebeneran nazham/ susunan syairnya/ syair arabnya dengandiri mereka sendiri.

Dan seperti pengaruh ini, orang-orang yang kembali bersama para utusan eropa ke sekolah-sekolah Islam di sebelah barat andalus dan negara-negara timur ialah yang memberi pengaruh kebodohan/ kegilaan pada gereja-gereja eropa. Maka mulailah para ilmuan yang memanggil dengan pemikiran-pemikiran yang diadopsi dari ilmu-ilmu orang Islam. Sebagi eksperimen untuk menghentikan arus menghanyutkan yang terjadi/ ada pada pemikiran orang-orang eropa yang merupakan hasil perseteruan dengan Islam.

Braiflet mengatakan dalam bukunya making of humanity :” dunia pada masa lalu sebagaimana kita tahu, pada saat itu belum ada satupun ilmu, sedangkan ilmu astronomi dan matematikanya yunani adalah ilmu asing yang didatangkan dari luar negeri mereka. Dan mereka mengambilnya sedangkan pena belum bercampur dengan budaya yunani dalam beberapa masa. Dan orang-orang yunani telah menyusun madzhab-madzhab/ pandangan-pandangan dan universalitas hukum dan mereka meletakan pandangan-pandangannya, akan tetapi dalam penyusunannya membutuhkan kesungguhan dan kesabaran. Kemudian mengumpulkan pengetahuan-pengetahuan yang positif dan memusatkannya juga menyusun sistem/ disiplin ilmu dengan pengawasan yang teliti secara terus menerus dan mencoba melakukan percobaan-percobaan, yang kesemuanya adalah suatu keanehan/ yang asing yang merupakan tambahan dari orang yunani.

Kita menyebutnya (ilmu) makl telah jelas hasilnya bagi ruh pencarian baru. Dan bagi cara-cara penyelidikan  yang modern, dengan jalan percobaan, penelitian dan perbandingan dan untuk mengembangkan ilmu matematika, kepada bentuk / cara yang belum diketahui orang yunani. Dan ruh ini adalah sistem tersebut, yang dimasukkan oleh arab kepada dunia eropa.

     Dan tidak hanya ilmu yang kembali menghidupkan eropa, pengaruh-pengaruh lain dari/ yang merupakan efek dari peradaban Islam yag membangunkannya sewaktu dini/ pagi hari dan menyebarkannya ke kehidupan orang-orang eropa dan hal yang terpenting yang diadopsi atau dilakukan eropa dari perseteruannya dengan Islam yaitu motivasi hidup.

Dan mereka telah berseteru dengan umat yang hidup, kuat, berpendidikan dan berperadaban yang berfikir lagi sadar.maka mereka menginginkan kehidupan yang sama/ sepadan bagi mereka,  maka kmereka mulai mengubah pandangan-pandangannya kepada hal-hal/segala urusan, dan mengubah sistem/ prinsip hidup mereka dari dasar-dasarnya maka bangkitlah mereka menjaddi umat yang baru.

Agamanya yang digerakan oleh gereja yang mengajak mereka untuk mengabaikan kehidupan dunia demi kenikmatan akhirat, merupakan penafsiran yang keliru diantara mereka atas sabda/ perkataan isa almasih:: yang mana ia mengatakan dengan perbuatannya:” barang siapa yang menginginkan kemuliaan dan kekuasaan hendaklah ia menunggalkan hartanya, anak-anaknya, dan ikutlah aku ….”. dan Allah telah menurunkan kepada orang Islam yang semodel ini akan tetapi tidak difahami sebagimana gereja memahami perkataan yang disandarkan pada isa al masih,.

Allah berfirman dalam surat at-taubah ayat : 24
Dan katakanlah “bapak-bapak, anak-anak, sudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rosulnya dan ( dari ) berjihad dijalannya maka tumbuhlah sampai allah mendatangkan keputusannya” dan Allah tidak memberinya petunjuk kepada orang-orang fasik. (Q. S. At-taubah : 24 )

Akan tetapi orang Islam tidak menterjemahkannya sebagaimana para rahib kristen yang mengabaikan realitas kehidupan dibumi.  Karena ajaran Islam mengajak kepada praktk hidup/ mempraktekkan dalam realitas kehidupan dengan segala bentuk pandangan/sisi/ arah dan tempat memanifestasikan untuk membenarkan/ mendapatkan kemudian pada realitas hidup. Dan hal itu dapat tercapai dengan mengaplikasikan sistem / prinsip ketuhanan didalam realitas dunia ini dan mengawasinya dalam setiap urusan manusia dari segi politik,ekonomi, sosial,, pemikiran, edukasi, dan etika, dan ganjaran bernaung kepada/ atas upaya manusia dibumi dalam rangka/ guna mengaplikasikan prinsip terebut dalam relitas kehidupan. Dan tidak ada ganjaran dalam hidup jika meninggalkan dunia dan melakukan pengrusakkan di bumi. Dan kaisar mengawasi/ menghukum dengan hawa nafsunya/ keinginannya hingga merusak di bumi.

Dan agama mereka yang digertakkan oleh pihak gereja mengajak mereka uintuk rela dengan kehinaan dan malu di kehidupan dunia demi akhirat. Yang juga merupakan interpretasi yang keliru atas sabda isa: yang mana ia berkata denagn perbuatannya:” barang siapa yang mengabdi dua oranmg tuan di dunia lebih baik dari orang yang mengabdi  kepada satuorang tuan”. Akan tetapi Islam mengajarkan manusia untuk tidak tunduk pada kezaliman di dunia. Bahkan untuk melawannya dengan sekuat tenaga, untuk menegakkan keadilan Tuhan yang terpatri dalam syariat…dan mengingatkan orang-rang yang rela dengan kehidupan dan kezaliman dengan azab yang pedih  surat an-nisa ayat: 97-99
    Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya dirinya sendiri, ( kepada mereka ) malaikat bertanya : “dalam keadaan bagaimana kamu ini, “ ?. mereka menjawab : “adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah)”. Para malaikat berkata “bukanlah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah dibumi itu ?”. orang-orang itu tempatnya neraka jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.    
    Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan ( untuk berhijrah ).
    Mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannaya. Dan adalah Allah maha pemaaf lagi maha pengampun. ( Q. S. An-nisa : 97-99 ) 

Dan mereka adalah orang-orang yang benar-benar lemah yang tidak bisa melakukan trik/ muslihat dan tidak mendapatkan solusi, bukan juga orang-orang yang menuinggalkan kehinaan yang memakan dan melenyapkan keberadaan mereka, akan tetapi/ sesungguhnya disanalaqh orang yang mendorong/ terdapat dorongan untuk menyudahi apa –apa  yang menim,pa mereka.
Page: 6
 Surat annisaa ayat 74-76
    Karena itu, hedaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dan kehiduan akhirat berperang dijalan Allah. Barang siapa yang berperang dijalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan kami berikan kepadanya pahala yang besar.
    Mengapa kamu tidak mau berperang dijalan allah dan ( membela ) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “ ya Allah kami , keluarkanlah kami dari negeri ini ( mekkah ) yang dzalim penduduknya dan berilah kami pelindungan dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.
    Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan Thaghut, sebab itu pergillah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah. (Q.S. An-Nisa 74-76)
  
Agama mereka yang digerakkan oleh gereja mengumpulkan (tokoh-tokoh agama) para paus  mereka  tidak berada dalam agama yang sebengrnya yang kokoh/ terdiri dari silsilah/ rantai cerita-cerita yang dibuat/ dikarang paulus dan yang lainnya, dimulai dengan penuhanan isa AS dan menyeru / mengajak dengan kenabiannya/ petrus dari Allah yang denagn perkataan yang disandarkan kepada isa bahwasanya ia berkata kepada petrus :” kau petruas, dan diatas batu ini anak / bangunlah gerejaku, dan pintu-pintu neraka tidak akan kuat diatasnya dan kuberikan engkau kunci-kunci kekuasaan langit maka setiap yang kau ikat di bumi maka menjadi terikat juga di atas langit, dan setiap apa yang kau halalkan di bumi menjadi halal juga di langit. Kemudian petrus memberikan kekuasaan ini pada paus maka, jadilah mereka paus-paus kesucian. Dan untuk kata-katanya: penguasa suci dan dengan kekuasaan ini mereka bertindak sewenang-wenang/ mendominasi di bumi dengan caranya yang tidak benar dan yang secara eksplisit bertanggung jawab ats bentuk kesewenangannya ialah pelarangan berfikir atas akal manusia tapi tidak memikirkan dari apa yang dibuat gereja dari dongeng-dongeng dan tahayul agar kekuasaan gereja terlindungi mak tertutuplah akal orang-orang eropa selama 10 abad secara terus menerus yaitu masa kegelapan yang berkibar atas agama gereja yang digerakkan dan akalnya terisi dengan cerita-cerita dongeng. Dan menyempurnakannya dengan menyuruh, memandang cahaya kewajiban dengan kegelapan.

Dan ketika Islam terbebas dari hal itu karena Islam agasma Allah yang haq, maka tidak ada pensucian untuk seseorang selain Allah SWT . hingga rasulnya SAW yang disuruh untuk mengatakan pada manusia :” maha suci Tuhanku aku hanya lah manusia yang diutus “ al-israa:93 dan orang-Islam menghormati rasulnya dan mentaationya dalam setiap perintah, dan menyegerakan untuk mendapatkan keredhaannya. Akan tetapi mereka tahu bahwa nabi adalah manusia dan peranannya ialah menyampaikan dari Tuhan nya itu merupakan penjelasan yang diturunkan dari Allah.

Yakni pendidikan dan petunjuk bagi mereka akan tetapi hal itu tidak mengandung bahaya dan manfaat bagi mereka kecuali dengan kehendak Allah.

Kemudian bahwa agama ini ( Islam) membawa akal untuk berfikir, bahkan mengajak/ menyeru dengan cara yang unik untuk membangun pemikiran dan perenungan dan melihat / memandang kepada kekuasaan langit dan bumi, mengetahui aturan-aturan Tuhan dalam keadaan yang sadar pada kehidupan manusia dan agar berjalan dimuka bumi ini, dan untuk berfikir. Maka dari itu senanglah umat yang beriman denagn agama ini, menembus kesadaran, kesadaran pemikiran,kesadaran terhadap bumi, kesadaran akan ilmu,dan mengerjakannya denagn baik di segala bidang.

Segala sesuatu dalam kehidupan orang Islam seakan-akan berhadapan dengan sempurna dengan apa yang dikarang eropa pada abad pertengahan yang gelap. Maka dari itu perseteruan antara eropa dan orang Islam sangatlah berpengaruh besar dalam kehidupannya, mencakup segala aspek kehidupan didalamnya. Sebagaiman braeflet dalam pernyataannya yang telah kami kutip sebelumnya :” dan tidak hanya ilmu yang mengembalikan kehidupan eropa. Tapi banyak pengaruhlain dari pengaruh-pengaruh peradaban Islam yang bangkit lebih awal dan menyinari kehidupan eropa.

Dan eropa menjadi layak sebagimana dikatakan oleh sejarawan inggris (wales)dalam bukunya ensiklopedi sejarah manusia – untuk memasukkan  Islam didalamnya ia berkata: “jikalau memungkinkan bagi seorang yang memiliki kecerdasan yang mendalam untuk melihat dunia pada awal/ pembukaan abad 16 niscaya ia akan menilai bahwa hal itu tidak akan terlaksana kecuali dengan sedikit kelompok yang tidak tetap sesudahnya dunia menjadi “shugaliyyah”
tapi mungkin akan menjadi dunia Islam .
Akan tetapi gereja menghentikan eropa dengan jalan melarang Islam masuk kedalamnya/ melarangnya untuk dimsuki Islam

Dan gereja akan mengupayakan di bidang itu, segala yang ada pada jalan itu. Dengan mengadakan mahakim taftis (peradilan pengawasan.dan dengan apa yang memberatkan kitab gereja dan para pemikirnya untuk menjelekkan pandangan tentang Islam pada diri orang-orang eropa dengan menjelekkan asumsi terhadap rasulullah SAW, dan para sahabatnyayang mulia yang diridhai Allah dan pemalsuan kejadian-kejadian sejarah dan mengasumsikan Islam dengan barbarik, kebuasan, kekejaman, kebengisan, kemunduran, kekerasan, dan kebiadaban………
     Tidak ditemukan dalam munjid dan al-ashry

GERAKAN SHALAT BERMANFAAT UNTUK KESEHATAN TUBUH

GERAKAN SHALAT BERMANFAAT UNTUK KESEHATAN TUBUH

Shalat ternyata tidak hanya menjadi amalan utama di akhirat nanti, tetapi gerakan-gerakan shalat paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Bahkan dari sudut medis, shalat adalah gudang obat dari berbagai jenis pnyakit.
Allah, Sang Maha Pencipta, tahu persis apa yang sangat dibutuhkan oleh ciptaanNya, khususnya manusia. Semua perintahNya tidak hanya bernilai ketakwaan, tetapi juga mempunyai manfaat besar bagi tubuh manusia itu sendiri. Misalnya, puasa, perintah Allah di rukun Islam ketiga ini sangat diakui manfaatnya oleh para medis dan ilmuwan dunia barat. Mereka pun serta merta ikut berpuasa untuk kesehatan diri dan pasien mereka.
Begitu pula dengan shalat. Ibadah shalat merupakan ibadah yang paling tepat untuk metabolisme dan tekstur tubuh manusia. Gerakan-gerakan di dalam shalat pun mempunyai manfaat masing-masing. Misalnya:

Takbiratul Ihram
Berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar tlinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah. Gerakan ini bermanfaat untuk melancarkan aliran darah, getah bening (limfe), dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancer ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancer. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.

Ruku’
Ruku’ yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang. Gerakan ini bermanfaat untuk menjaga kesempurnaan posisi serta fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat saraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi untuk merelaksasikan otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah sarana latihan bagi kemih sehingga gangguan prostate dapat dicegah.

I’tidal
Bangun dari ruku’, tubuh kembali tegak setelah mengangkat kedua tangan setinggi telinga. I’tidal merupakan variasi dari postur setelah ruku’ dan sebelum sujud. Gerakan ini bermanfaat sebagai latihan yang baik bagi organ-organ pencernaan. Pada saat I’tidal dilakukan, organ-organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Tentu memberi efek melancarkan pencernaan.

Sujud
Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai. Posisi sujud berguna untuk memompa getah bening ke bagian leher dan ketiak. Posis jantung di atas otak menyebabkan daerah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Oleh karena itu, sebaiknya lakukan sujud dengan tuma’ninah, tidak tergesa-gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Posisi seperti ini menghindarkan seseorang dari gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik ruku’ maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.

Duduk di antara sujud
Duduk setelah sujud terdiri dari dua macam yaitu iftirosy (tahiyat awal) dan tawarru’ (tahiyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki. pada saat iftirosy, tubuh bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan saraf nervus Ischiadius. Posisi ini mampu menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarru’ sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (uretra), kelenjar kelamin pria (prostate) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan dengan benar, posisi seperti ini mampu mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarru’ menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.

Salam
Gerakan memutar kepala ke kanan dank e kiri secara maksimal. Salam bermanfaat untuk bermanfaat untuk merelaksasikan otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala sehingga mencegah sakit kepala serta menjaga kekencangan kulit wajah.

Gerakan sujud tergolong unik. Sujud memiliki falsafah bahwa manusia meneundukkan diri serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dari pantatnya sendiri. Dari sudut pandang ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai kekebalan tubuh dari sudut pandang psikologis) yang di dalami Prof. Soleh, gerakan ini mengantarkan manusia pada derajat setinggi-tingginya. Mengapa?
Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan oksigen. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tuma’ninah dan kontinu dapat memicu peningkatan kecerdasan seseorang.
Setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara normal. Darah tidk akan memasuki urat saraf di dalam otak melainkan ketika seseorang sujud dalam shalat. Urat saraf tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini berarti, darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikuti waktu shalat, sebagaimana yang telah diwajibkan dalam Islam.
Riset di atas telah mendapat pengakuan dari Harvard University, Amerika Serikat. Bahkan seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan diri masuk Islam setelah diamdiam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud. Di samping itu, gerakan-gerakan dalam shalat sekilas mirip gerakan yoga ataupun peregangan (stretching). Intinya, berguna untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan shalat dibandingkan gerakan lainnya adalah di dalam shalat kita lebih banyak menggerakkan anggota tubuh, termasuk jari-jari kaki dan tangan.
Sujud adalah latihan kekuatan otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.
Masih dalam posisi sujud, manfaat lain yang bisa dinikmati kaum hawa adalah otot-otot perut (rectus abdominis dan obliqus abdominis externus) berkontraksi penuh saat pinggul serta pinggang terangkat melampaui kepala dan dada. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lebih lama yang membantu dalam proses persalinan. Karena di dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami, otot ini justru menjadi elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan dan mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).
Setelah melakukan sujud, kita melakukan gerakan duduk. Dalam shalat terdapat dua jenis duduk: iftirosy (tahiyat awal) dan tawaru’ (tahiyat akhir). Hal terpenting adalah turut berkontraksinya otot-otot daerah perineum. Bagi wanita, di daerah ini terdapat tiga liang yaitu liang persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih. Saat tawarru’, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum. Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.
Pada dasarnya, seluruh gerakan shalat bertujuan meremajakan tubuh. Jika tubuh lentur, kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika dilakukan secara rutin, maka sel-sel yang rusak dapat segera tergantikan. Regenerasi pun berlangsung dengan lancar. Alhasil, tubuh senantiasa bugar.
Menuru penelitian Prof. Dr. Muhammad Soleh dalam desertasinya yang berjudul “Pengaruh Shalat Tahajud terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Neuroimunologi” dengan desertasi itu, Soleh berhasil meraih gelar doctor dalam bidang ilmu kedokteran pada program pasca sarjana Universitas Surabaya yang dipertahankannya beberapa waktu lalu.
Shalat tahajud ternyata bukan hanya sekedar shalat tambahan (sunah muakkad), tetapi jika dilakukan secara rutin dan ikhlas akan bisa mengatasi penyakit kanker. Secara medis, shalat tahajud mampu menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imunologi) khususnya pada imunoglobin M, G, A, dan limfositnya yang berupa persepsi serta motivasi positif. Selain itu, juga dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi.
Selama ini, ulama melihat ikhlas hanya sebagai persoalan mental psikis. Namun, sebetulnya permasalahan ini dapat dibuktikan dengan teknologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol dengan parameter kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah kortisol pada pagi hari normalnya antra 38-690 nmol/liter. Sedangkan pada malam hari atau setelah pukul 24.00, jumlah ini meningkat menjadi 69-345 nmol/liter.
“Kalau jumlah hormone kortisolnya normal, dapat diindikasikan bahwa orang tersebut tidak ikhlas karena merasa tertekan. Demikian juga sebaliknya,” ujarnya seraya menegaskan temuannya ini membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama Islam semata-mata dogma atau doktrin.
Menurut Dr. Soleh, orang stress biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan melakukan tahajud secara rutin dan disertai perasaan ihklas serta tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respon imun yang baik serta besar kemungkinan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Berdasarkan perhitungan medis, shalat tahajud yang demikian menyebabkan seseorang memiliki ketahanan tubuh yang baik.

Apakah Islam Itu ?

Apakah Islam Itu ?

Dapatkah kita menemukan penjelasan untuk alam semesta yang luas? Apakah ada interprestasi yang meyakinkan tentang rahasia keberadaannya? Kita sadar bahwa tidak ada keluarga yang berfungsi dengan baik tanpa tanggung jawab pemimpinnya. Tidak ada kota yang dapat memakmurkan keberadaannya tanpa pemerintahan yang jelas. Dan tidak ada negara yang dapat hidup tanpa adanya seorang pemimpin. Kita juga sadar bahwa tidak sesuatu pun datang dengan berdiri sendiri.
Terlebih lagi, kita mengamati bahwa keberadaan alam semesta dan fungsinya dalam tatanan yang paling rapi dan terus hidup selama ratusan bahkan ribuan tahun. Dapatkah kita mengatakan bahwa semua ini secara kebetulan dan tanpa terencana? Dapatkah kita menghubungkan keberadaan manusia dari seluruh dunia ini kebetulan belaka? Apa yang digambarkan manusia hanyalah bagian kecil dari alam semesta dan jika dapat membuat rencananya dan menyadari manfaat rencana itu kemudian keberadaan dan keberlangsungan alam semesta ini pasti juga berdasarkan rencana yang bijaksana.
Hal ini berarti bahwa ada kehendak yang terpola di belakang keberadaan jasmaniah kita dan ada kekuatan yang luar biasa untuk membawa hal-hal itu ada dan menjaga mereka tetap berjalan. Pasti ada kekuatan yang besar di dunia ini dalam bertindak untuk menjaga segala sesuatu. Alam yang indah ini pasti ada Pencipta Yang Maha Besar yang membuat bagian-bagian seni itu sangat menarik dan menghasilkan segala sesuatu untuk tujuan khusus dalam kehidupan ini.
Orang yang senantiasa mendapat penerangan yang mendalam mengakui pencipta Nya dan menyebut-Nya Allali. Dia bukanlah manusia, sebab manusia itu tidak dapat menciptakan atau membuat manusia yang lain. Dia juga bukan binatang maupun tumbuhan. Dia bukan berhala, patung, atau sejenisnya, sebab tidak ada sesuatu apa pun yang dapat membuat dirinya sendiri atau menciptakan sesuatu yang lain. Dia berbeda dengan seluruh benda sebab Dia adalah Pencipta dan Penjaga seluruhnya. Pencipta pasti berbeda dan jauh Maha Besar dari benda-benda yang Dia ciptakan.
Ada beberapa jalan untuk mengetahui Allah dan ada beberapa hal untuk memberitakan tentang-Nya. Suatu mukjizat besar yang mengagumkan dan mengesankan di dunia adalah kitab yang terbuka bagi siapa saja yang kita dapat membaca tentangnya. Lagipula Allah memberi pertolongan kepada kita melalui beberapa rasul dan wahyu-Nya yang mana Dia menurunkan untuk seluruh umat manusia. Rasul dan wahyu ini menjelaskan segala hal kepada kita yang mana kita perlu mengetahui Sang Pencipta kita.
Ajaran dan petunjuk yang lengkap yang mendukung pencipta kita sebagaimana yang dinyatakan melalui semua rasul-Nya adalah agama Islam. Islam memerintahkan supaya yakin dengan keesaan Allah yang membuat manusia sadar akan berartinya alam semesta sebagai tempatnya. Keyakinan ini membebaskan manusia dari rasa takut dan takhayul yang membuat dia sadar akan keberadaan Allah Yang Maha Kuasa dan kewajiban terhadap-Nya.
Keyakinan ini harus dilaksanakan dengan tindakan, percaya saja tidaklah cukup. Percaya dengan adanya satu tuhan "Allah" membutuhkan apa yang kita cari terhadap seluruh manusia sebagai satu keluarga di alam semesta di bawah kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa dan Yang Memelihara seluruhnya. Islam menolak ide dari pilihan orang yang menjadi tanggung jawab yang lain. Islam menyetujui kepercayaan terhadap Sang Pencipta dan yang mengerjakan perbuatan yang baik akan masuk ke surga. Dengan demikian, ada hubungan langsung yang dibangun dengan Allah tanpa ada perantara.
Islam bukanlah agama baru. Pada intinya ada pesan dan petunjuk yang sama yang Allah turunkan kepada rasul-rasul-Nya seperti Nabi Adam AS, Henog AS, Nuh AS, Ibrahim AS, Ismail AS, Ishak AS, Daud AS, Musa AS, Isa AS, dan Muhammad SAW Namun, pesan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah Islam yang lebih luas, lengkap, dan paling akhir.
Al-Quran diturunkan dalam bentuk firman Allah dan sebagai sumber dasar ajaran dan hukum Islam. Di dalamnya berhubungan dengan dasar iman, moral, sejarah manusia, ibadah, pengetahuan, kebijakan, hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan segala aspek. Di dalamnya berisi ajaran yang lengkap yang dapat dibangun sistem yang logis dan keadilan sosial, ekonomi, politik, perundang-undangan, ilmu hukum/yurisprudensi, hukum, dan hubungan internasional yang mana isi dari al-Quran seluruhnya penting.
Hadis yang berisi ajaran, perkataan, persetujuan, dan tindakan Nabi Muhammad SAW yang disampaikan dengan cermat dan dikumpulkan oleh teman setianya, penjelasan dan uraian secara terperinci ada di dalam ayat-ayat al-Quran.

Apakah AI-Quran itu dan Siapakah Muhammad itu?

Apakah AI-Quran itu dan Siapakah Muhammad itu?
Al-Quran adalah firman Allah sebagai sumber utama untuk setiap keyakinan dan ibadah orang Islam. Hal ini merupakan sebuah peraturan untuk semua subjek yang berhubungan dengan manusia, kebijakan, ajaran, ibadah, jual-beli, hukum, dan lain-lain. Akan tetapi yang Paling utama adalah hubungan antara Allah dan makhluk Nya. Pada saat yang sama, al-Quran juga memberikan pedoman dan ajaran secara mendetail tentang kemasyarakatan, bergaul atau berperi laku dengan sesama manusia dan sistem ekonomi secara adil.
Mushaf al-Quran diturunkan kepada Nabi Muham­mad SAW dalam bahasa Arab. Sehingga banyak terjemahan al-Quran, baik yang diterjemahkan ke daiam bahasa Inggris atau bahasa lain. Tidak ada al-Quran lain atau versi lain al-Quran selain al-Quran itu sendiri. Al-Quran tetap eksis hanya dalam bahasa Arab sejak diturunkan.
Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah, Jazirah Arab, tahun 570 M. Ayahnya meninggal sebelum beliau lahir dan sebentar kemudian ibunya juga meninggal. Akhirnya beliau diasuh pamannya, salah satu orang yang dihormati di suku Quraisy. Dia diasuh dalam keadaan buta huruf tidak dapat membaca atau menulis dan tetap dengan keadaan demikian sampai meninggal. Begitu beliau tumbuh dewasa, dia terkenal sebagai seorang yang jujur, terpercaya, dermawan, dan tulus hati. Karena dia orang yang dapat dipercaya, dia mendapat julukan al-Amin.
Nabi Muhammad SAW sangat tafakur dan dia sangat dibenci oleh masyarakat yang menyembah berhala sepanjang dekade. Pada waktu berumur empat puluh tahun, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama kali dari Allah SWT melalui malaikat Jibril. Wahyu itu berlangsung selama 23 tahun dan terkumpul dalam sebuah mushaf yang terkenal dengan nama al-Quran.
Hadis adalah perkataan Nabi Muhammad SAW yang juga dijadikan sumber kedua. Akan tetapi, pernyataan ini tidak dijadikan susunan kata secara langsung dari Allah. Sesegera mungkin dia mulai menyampaikan al-Quran dan mengajarkan kebenaran yang telah Allah turunkan kepadanya, dia dan pengikutnya yang masih sedikit mendapat penyiksaan dari orang-orang kafir. Penganiayaan itu semakin berat sampai tahun 622 M, dimana Allah memerintahkan mereka untuk berhijrah.
Hijrah ini dari kota Makkah ke kota Madinah, sekitar 400 kilometer ke arah utara. Peristiwa hijrah ini lantas dijadikan sebagai pedoman kalender Hijriah.
Setelah beberapa tahun, Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya sanggup untuk kembali ke Makkah di mana mereka memaafkan musuh-musuhnya. Sebelum Nabi Muhammad SAW meninggal pada umur 63 tahun, Islam telah menyebar ke seluruh ke Jazirah Arab. Dan sampai berabad-abad sepeninggainya, Islam telah menyebar ke Barat sampai ke Spanyol dan ke Timur sejauh Cina.
Di antara alasan-alasan mengapa Islam cepat berkembang dan menyebar karena Islam mengajarkan kebenaran dan perdamaian. Islam memiliki keyakinan, mengajarkan, dan merupakan agama tauhid, yaitu yang hanya menyembah satu tuhan, satu-satunya Tuhan yang patut disembah.
Nabi Muhammad SAW adalah contoh teladan yang memiliki sifat jujur, adil, murah hati, selalu mengasihi, dan pemberani. Dia menghilangkan semua tindak kejahatan dan berusaha sejauh mungkin semata-mata demi agama Allah dan pahala-Nya di akhirat nanti. Semua urusan dan perbuatannya dia sandarkan pada Allah.

Jalaluddin Rumi.

Jalaluddin Rumi.

Nama Asli Rumi adalah Muhammad Jalaluddin. Tetapi kemudian, ia terkenal dengan sebutan Maulana al-Rumi atau Rumi saja. Ia dilahirkan pada tanggal 6 Robiul Awwal 604 H (30 September 1207 M) di Balkh, yang pada saat itu masuk dalam wilayah kerajaan Khawarizm, Persia Utara.
Rumi Lahir dari benih unggul. Dari pihak ayah, ia mempunyai garis keturunan Abu Bakar al-Shiddiq, sedangkan dari pihak ibu, ada hubungan darah dengan Ali ibn Abi Thalib. Ia juga termasuk keluarga kerajaan, karena kakeknya, Jalaluddin Huseyn al-Katibi, menikah dengan putri raja 'Ala al-Din Muhammad Khawarizm Syah. Dari perkawinan ini, lahirlah ayah Rumi yang bernama Muhammad, yang selanjutnya ia bergelar Baha' al-Din Walad, tokoh ulama dan guru besar di negerinya di masa itu yang juga bergelar Sultanu al-Ulama'.Pada masa kanak-kanak, Rumi dididik sendiri oleh ayahnya yang merupakan ulama’ besar saat itu. Setelah itu oleh ayahnya,
Rumi dipercayakan pada salah satu muridnya, Sayid Burhanuddin, selama empat sampai lima tahun, sebelum hijrah dari Balkh. Pengembaraannya yang cukup panjang ke beberapa kota dan negeri tetangga, dengan ayah dan keluarganya, memberi kesan yang mendalam tentang gejolak sejarah dan romantika kehidupan manusia. Sedangkan perjumpaannya dengan beberapa tokoh besar seperti Fariduddin al-Attar, Sihabuddin al-Suhrawardi dan juga Muhammad ibn Ali ibn Malik Daad, yang lebih dikenal dengan Syamsuddin alTabrizi atau Syam Tabriz, telah membangkitkan antusiasme yang cukup besar untuk menjadi manusia terhormat.
Hal yang demikian membuat Fariduddin al-Attar dengan penuh optimisme meramalkan: "Hari akan datang, di mana anak ini akan menyalakan api antusiasme ketuhanan ke seluruh dunia".Ketika ayahnya meninggal tahun 1230 M, Rumi diangkat sebagai ganti ayahnya untuk mengajar di Madrasa-i-uba'iyyat (Khudavandgar), dan sebagai penasihat para sarjana dan mahasiswa. Selain itu, ia juga berubah profesi sebagai penyiar agama.
Dari ayahnya itulah Rumi memperoleh berbagai ilmu pengetahuan jamannya, terutama ilmu kalam yang cukup mempengaruhi pola pemikiran teologinya, disamping ketekunan belajarnya di berbagai tempat dan kota serta dengan beberapa tokoh besar lainnya.

Jalaluddin Rumi dan Karya-Karyanya.
Rumi adalah termasuk tokoh sufi yang produktif. Di samping sebagai juru da'i dan guru, dia juga aktif menulis karya-karya sufisme yang mayoritas berbentuk sya'ir atau prosa. Karena itu, wajarlah jika ia dijuluki sebagai sufi-penyair besar.
Karya sastra Rumi bisa dibilang sangat jamak; dalam bukunya Diwan-i Syams-i Tabriz terdapat kurang lebih 2500 lirik; dalam Masnawi sekitar 25.000 bait syair; dan Ruba'iyyat (syair empat baris) yang kira-kira 1600 barisnya adalah asli.
Secara ringkas, karya-karya Jalaluddin Rumi dapat diklasifikasikan menjadi 6 buah karya; 3 karya besar dan 3 karya yang relatif kecil.
 a. Adapun karya besarnya adalah sebagai berikut:
  • Maqalat-i Syams-i Tabriz (wejangan-wejangan Syam Tabriz). Karya ini berisi tentang dialog-dialog mistis antara Syam Tabriz sebagai guru dan Rumi sebagai murid. 
  • Divan-i Syams-i Tabriz (lirik-lirik Syams Tabriz). Karya ini disusun Rumi saat ia berpisah dengan gurunya Syam Tabriz, yang berisi pujaan disamping untuk mengenang guru sekaligus sahabat yang dicintainya.
  • Masnav-i Ma'nawi (Masnawi Jalaluddin Rumi). Karya ini berisi ajaran-ajaran pokok Tasawuf Rumi yang sangat mendalam. Para pengikut Rumi menganggapnya sebagai penyibak makna batin al-Qur'an. Karya ini ia sampaikan dalam bahasa puisi yang kreatif melalui apologi, anekdot dan legenda.
b. Sedangkan karya Rumi yang relatif kecil antara lain:
  • Ruba'iyyat. Karya puisi Rumi yang disampaikan dalam bentuk Kuatrin (sajak 4 baris).
  • Maktubat (Korespondensi). Karya ini merupakan kumpulan surat-surat Rumi yang ditujukan kepada dan untuk membalas rekan-rekan atau para pengikutnya.
  • Fihi Ma Fihi (Di dalam apa yang ada di dalam). Karya ini merupakan ceramah tasawuf Rumi kepada para pengikutnya yang tergabung dalam tarekatnya.

Karakteristik Sufisme Jalaluddin Rumi 
Sebagaimana yang telah dikemukakan diatas bahwa karya-karya Rumi mayoritas berbentuk sya'ir, maka untuk melacak dan mengetahui lebih jauh karakteristik sufisme Rumi perlu juga dilakukan analisa terhadap karya-karya tersebut, di antaranya adalah sebagai berikut:
"Wahai kegilaan yang membuai, Kasih !”
“Engkau Tabib semua penyakit kami !”
“Engkau penyembuh harga diri,”
“Engkau Plato dan Galen kami !”
Dalam hal ini, Muhammad Iqbal menjelaskan bahwa Rumi masuk ke dalam madzhab Realitas Utama Sebagai Keindahan, sebagaimana Ibn Sina, yang pembawaannya terletak dalam melihat "wajah-Nya sendiri yang tercermin dalam cermin alam semesta". Karena itu, alam semesta ini bagi mereka berdua merupakan pantulan "Keindahan Abadi" dan bukan suatu emanasi seperti yang diajarkan oleh Neo-Platonisme. Juga, menurut Mir Sayyid Syarif, penyebab penciptaan ialah manifestasi keindahan, dan penciptaan yang pertama ialah cinta. Wujud Keindahan ini dihasilkan oleh cinta kasih semesta, yang instingtif-bawaan. Zoroaster dari Sufi Persia senang mendefinisikannya sebagai "Api Kudus yang membakar segalanya kecuali Tuhan".
Ekspresi-ekspresi sufisme sering berpegang pada keseimbangan antara cinta dan pengetahuan, suatu bentuk ekspresi emosional yang lebih mudah memadukan sikap keagamaan yang merupakan titik awal setiap kehidupan kerohanian Islam. Begitu pula yang dilakukan oleh Jalaluddin Rumi, ia mengekspresikannya dalam bahasa cinta. Hal itu dapat ditemukan dalam sya'irnya yang lain:
“Aku adalah kehidupan dari yang kucintai”
“Apa yang dapat kulakukan hai orang-orang Muslim ? Aku sendiri tidak tahu.”
“Aku bukan orang kristen, bukan orang Yahudi, bukan orang Magi, bukan orang Mosul,”
“Bukan dari Timur, bukan dari barat, bukan dari darat, bukan dari laut, Bukan dari” “tambang Alama, bukan dari langit yang melingkar,”
“Bukan dari bumi, bukan dari air, bukan dari udara, bukan dari api,”
“Bukan dari singgasana, bukan dari tanah, dari eksistensi, dari ada,”
“Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqsee,”
“Bukan dari kerajaan-kerajaan Irak dan Kurasan,”
“Bukan dari dunia ini atau yang berikutnya; dari syurga atau neraka,”
“Bukan dari Adam, Hawa, taman-taman syurgawi, atau firdausi,”
“Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak,”
“Bukan raga atau jiwa; semua adalah kehidupan dari yang kucintai”.

Dalam kenyataannya, perbedaan antara jalan pengetahuan dan jalan cinta terletak pada masalah keunggulan salah satunya atas lainnya, meskipun sebenarnya tidak pernah ada pemisahan sepenuhnya antara kedua modus rohani tersebut. Pengetahuan tentang Tuhan selalu memikirkan cinta, sementara cinta mengisyaratkan adanya pengetahuan mengenai obyek cinta, walaupun itu hanya merupakan pengetahuan langsung dan renungan.
Obyek cinta rohani adalah keindahan Tuhan yang merupakan suatu aspek dari ketakterbatasan Tuhan, dan melalui obyek ini rasa cinta menjadi terang dan jelas. Cinta yang penuh dan terpadu berputar mengelilingi sesuatu titik tunggal yang tak terlukiskan, Allah Swt.
Selanjutnya menurut Rumi, cinta lebih tinggi dari kecemasan, hal ini dapat kita fahami dalam sayirnya:
“Sang Sufi bermi'raj ke 'Arsy dalam sekejap, sang zahid membutuhkan waktu sebulan untuk sehari perjalanan.Meskipun bagi sang zahid, sehari bernilai besar sekali, namun bagaimana satu harinya bisa sama dengan lima puluh ribu tahun ? Dalam kehidupan sang Sufi, setiap hari berarti lima puluh ribu tahun di dunia ini.”
“Cinta (mahabbah), dan juga gairah cinta ('isyq) adalah sifat Tuhan, takut adalah sifat hawa nafsu dan birahi. Cinta memiliki lima ratus sayap, dan setiap sayap membentang dari atas syurga di langit tertinggi sampai di bawah bumi.”
“Sang zahid yang ketakutan berlari dengan kaki, para pecinta Tuhan terbang lebih cepat dari pada kilat”.
“Semoga Rahmat Tuhan membebaskanmu dari pengembaraan ini!, tak ada yang sampai, kecuali rajawali yang setialah yang menemukan jalan menuju sang Raja.”
Menurut Annemarie Schimmel, kekuatan Rumi adalah cintanya, suatu pengalaman cinta dalam makna manusiawi tetapi sama sekali didasarkan pada Tuhan. Ia merasa bahwa dalam setiap do'a ada rahmat Ilahi, dan ia membukanya sendiri rahmat Ilahi itu. Beserta dengan kehendak Ilahi, ia menemukan pemecahan bagi teka-teki taqdir dan mampu menjulang ke puncak kebahagiaan dari kesedihan yang paling dalam karena perpisahan. Hal ini diungkapkannya dalam sebuah syair:
"Aku terbakar, dan terbakar dan terbakar"
Selanjutnya, Schimmel mengatakan bahwa Rumi telah mengalami keindahan dan keagungan Ilahi dengan seluruh indranya. Pengalaman indrawi terpantul kuat dalam sajaknya, dan dalam sajak itu selalu terjaga keseimbangan antara pengalaman indrawi dan kasih Ilahi, sebagaimana berikut:
“Lewat Cintalah semua yang pahit akan jadi manis,”
“Lewat cintalah semua yang tembaga akan jadi emas,”
“Lewat cintalah semua endapan akan jadi anggur murni,”
“Lewat cintalah semua kesedihan akan jadi obat,”
“Lewat cintalah si mati akan jadi hidup,”
“Lewat cintalah Raja jadi budak.”
Dalam suatu kesempatan, Rumi pernah mengatakan bahwa hingga hari kebangkitan pun kita tidak mungkin bisa berbicara secara memadai tentang wajah cinta. Sebab, menurutnya, mana mungkin mengukur samudera dengan piring.
Dari beberapa syair Rumi tersebut, kita memperoleh pemahaman bahwa pemahaman atas Tuhan beserta alam semesta hanya mungkin lewat bahasa cinta, bukan semata-mata dengan kerja dan usaha yang bersifat fisik lahiriyah.

Para Penghuni Surga


Para Penghuni Surga  

Ungkapan ashab al-jannah (para penghuni surga) dalam Al­Quran disebut sebanyak 12 kali. Yang dimaksud dengan surga ialah yang ditetapkan Allah bagi orang-orang yang benar, bukan surga dunia sebagaimana dimaksudkan dalam firman Allah SWT: "Sesungguhnya Kami uji mereka sebagaimana Kami uji penghuni­-penghuni surga …..." Surga yang dimaksudkan oleh ayat ini adalah surga dunia. Ada pun pada ayat selain ini, surga yang dimaksud adalah surga yang ditetapkan oleh Allah SWT bagi hamba-hamba­Nya yang saleh. Kata ashab al-jannah yang disebut 12 kali, sama dengan banyaknya Khalifah sepeninggal Rasulullah saw., sebagai­mana disebutkan di dalam ayat-ayat berikut ini:

1
.........Dan orang-orang beriman serta beramal saleh, mereka itu para penghuni surga (ashab al -jannah). (Al-Baqarah: 82)

.........Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekadar kemampuannya, mereka itulah para peng­huni surga (ashab al-jannah). (Al-A'raf: 42).

Dan para penghuni surga (ashab al-jannah) berseru ......... (AI­A'raf: 44)

4 
......... Dan mereka menyeru penghuni surga (ashab al-jannah): "Limpahkanlah kepada kami sedikit air ......... (Al-A'raf: 50)

  .........Dan mereka tidak ditutup: debu hitam, tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah para penghuni surga (ashab al-jannah). (Yunus: 26).

...... Dan merendahkan diri kepada Tukan mereka, mereka itu adalah para penghuni surga (ashab al-jannah) (Hud: 23).

Sesungguhnya para penghuni surga (ashab al-jannah) pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). (Yunus: 55).

Para penghuni surga (ashab al-jannah) pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya. (AI-Furqan: 24)

...... dan Kami ampuni kesalakan-kesalahan mereka, bersama para penghuni surga (ashab aljannah) ...... (Al-Ahqaf: 16)

10
10.  Tiada sama penghuni neraka dengan penghuni surga (ashab al­jannah). (Al-Hasyr: 20)

11 
...... para penghuni surga (ashab al-jannah) itulah orang-orang yang beruntung. (Al-Hasyr: 20)

12 
...... Dan para penghuni surga (ashab al-jannah) berseru: "Salamun'alaikum" ...... (Al-A'raf: 46)

PAHAM ORTODOKS DAN PERPECAHAN DALAM ISLAM

PAHAM ORTODOKS DAN PERPECAHAN DALAM ISLAM

Berdampingan dengan kesempurnaan yang terurai dari rangka hukum menurut pendapat akal --yang telah diterangkan dalam bab di muka-- dilaksanakan usaha mendalam dan melebar bagi ilmu kalam ortodoks. Juga usaha ini merupakan karya beberapa generasi Islam, sebagaimana telah kita lihat, keluar dari Arabia sebagai akidah yang berpautan, tetapi perumusan secara ilmu ketuhanan masih berada dalam keadaan yang cair. Dapat juga karena daerah penyiaran Islam tadi amat luas menyebabkan akidah tersebut liat untuk waktu yang lebih lama daripada seharusnya, bertalian dengan banyaknya jenis pikiran dan pengalaman agama yang dipengaruhi dan yang mempengaruhinya.

Dalam seluruh propinsi di Asia Barat, kita lihat Islam mula-mulanya mempunyai sifat yang agak nyata, bergantung kepada derajat pengaruh yang diterima dari suasana setempat. Dalam kota-kota di Hijaz, pertemuan ini menerbitkan bentuk generasi-generasi awal yang saleh dan praktis, lepas dari renungan; di Siria, Islam mulai dipengaruhi oleh pikiran Kristen Yunani; di Irak, Islam telah ketularan beberapa akidah ilmu kebatinan. Diantara suku-suku penggembala Arab dari daerah-daerah perbatasan Islam menjadi alat kelobaan dan kegemaran merampas dimuliakan menjadi kefanatikan. Dalam beberapa distrik Persia, Islam diterima sebagai selimut bagi dualisme yang diubah. Bagi seorang yang hidup pada waktu itu sulit untuk meramalkan bentuk mana yang akhirnya akan keluar sebagai bentuk ortodoks, bentuk "resmi" kepercayaan Islam, kecuali akidah-akidah kefanatikan suku-suku tadi, semuanya mula-mula agak dibiarkan saja. Tidak ada orang yang mengakui keesaan Allah dan utusan Muhammad saw. sebagai nabi, dikeluarkan dari umat Islam.

Pembentukan sistem ortodoks adalah proses yang bertingkat-tingkat. Kegiatan politik memainkan peranan yang besar dalam pembentukan sistem tadi (sebagaimana dalam pembinaan segala sistem ortodoks), meskipun acap kali mengukuhkan daripada menentukan kecondongan yang utama. Faktor pertama yang membantu ialah perasaan kebesaran akhlak yang besar dari orang Arab dalam kerajaan Islam, suatu keagungan akhlak yang berlangsung lebih lama daripada keagungan politiknya. Pada beberapa tempat terdengar sanggahan terhadap orang Arab, tetapi dalam pikiran keagamaan suara-suara ini tidak berarti terhadap martabat kearabian, cita-cita Arab. Sejarah peradaban Islam tidak dapat dipahami, apabila fakta ini tidak diinsafi sepenuhnya dan diberikan tempat yang wajar.

Madinah adalah pusat cita-cita Arab. Dari pusat itulah Islam dikembangkan dan Madinah terutama merupakan markas besar ajaran-ajaran agama Islam yang awal mula. Di Madinah, Quran menerima bentuknya yang akhir; di Madinah, hadis-hadis dikumpulkan, dan untuk pertama kali ilmu bahasa dan sejarah digunakan dalam penelaahan sumber-sumber agama Islam. Sejak awal sekali sarjana semua negara, baik yang dilahirkan dalam keluarga muslim atau penganut Islam baru maupun Arab asli atau bukan Arab, berduyun-duyun datang ke Madinah dan menerima akidah-akidah murni agama baru dari sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw. dan dari orang-orang yarg paling dekat dengan sahabat-sahabat tersebut. Perguruan di negara-negara lain hanya memiliki kepentingan setempat; Madinah merupakan satu-satunya perguruan yang universal.

Keunggulan itu dikuatkan oleh faktor lain; dalam teori agama Islam "Gereja" dan "negara" adalah satu dan tidak boleh dipisahkan. Pertalian akhlak dan keagamaan yang halus yang dipakai oleh khalifah-khalifah terdahulu untuk mengawasi badan politik Islam telah dipatahkan dengan kekerasan empat puluh tahun setelah hijrah. Selanjutnya, diganti oleh kekuasaan militer. Jadi dalam prakteknya "Gereja" dan "negara" telah dipisahkan. Di Madinah fakta itu tidak pernah diakui. Madinah tetap menjadi markas besar perlawanan keagamaan yang menolak segala penghianatan idaman pemerintah agama, dan perebutan kekuasaan oleh pemerintah keduniawian. Sebagian besar pendapat kaum Mutakallimun dalam kerajaan menyetujui perasaan tersebut. Sikap alim ulama di Madinah menaikkan kewibawaannya; bahkan juga dalam kalangan mereka yang tidak sepenuhnya menganut paham ketuhanan konservatif, akidah Yunani tentang logos, akal.

Dengan jalan demikian, perguruan di Madinah dengan tegas menyokong menyelamatkan keutuhan seragam umum diantara perguruan-perguruan agama setempat yang kecil-kecil; paling penting di Irak. Lebih-lebih perguruan di Madinah telah mencamkan atas jamaah universal, yang baru dilahirkan akhlak kesalehan yang praktis. Ada pula hal yang barangkali tidak kurang pentingnya: memisahkan agama Islam dari organisasi politik, Islam tetap di atas lapangan politik, dan tidak turut merobohkan keunggulan politik Arab.

Alim ulama di Madinah menerima ganjarannya, waktu kerajaan Bani Abbas memperoleh keunggulan dan memindahkan ibu kota kerajaan ke Irak. Serba ortodoks keluaran Madinah menjadi salah satu prinsip Bani Abbas. Khalifah-khalifah giat memberikan sedikit-dikitnya bantuan moral pada ajaran Madinah. Ada yang memberikan lebih dari bantuan moral saja dengan memulai semacam penuntutan tegas terhadap keburukan kebatinan dan dualisme. Lambat laun takrif paham ortodoks mulai menjadi rapat. Mula-mula pentafsiran fanatik orang suku-suku (akidah kaum Khawarij yang lebih ekstrim) telah ditolak sebagai paham yang berlawanan dengan paham resmi, selanjutnya ditolak sebagai pentafsiran kebatinan dan dualistik yang lebih ekstrim. Kedua aliran yang akhir ini dapat dipertahankan, akan tetapi sebagai aliran yang menyeleweng tegas (sebagaimana akan kami kupas di belakang). Selain itu masih ada pentafsiran-pentafsiran lain dan pada khususnya suatu pentafsiran yang sukar diasingkan dan diberantas. Pentafsiran tadi ialah pentafsiran Yunani yang dipertahankan oleh mazhab Muktazilah. Selama dua abad, pergelutan antara dua anggapan itu merupakan masalah pokok di dunia Islam ortodoks.

Masalah yang menjadi urusan berdasarkan ilmu metafisika (ilmu ilahiyat dan makulat). Filsafat Timur tidak pernah dapat menghargai dasar cita-cita keadilan dalam filsafat Yunani. Wakil-wakil pentafsiran Yunani mencoba memasukkan cita-cita tersebut ke dalam Islam. Mazhab-mazhab yang lebih saksama berpegang pada anggapan Timur yang memandang Allah sebagai Kuasa, Kasih, dan Penyayang yang tidak terbatas; kaum Muktazilah menciptakan Allah sebagai Keadilan yang terbatas. Lawan-lawan mereka memandang itu sebagai membatasi kekuasaan Allah --pembatasan sewenang-wenang-- sebab kebutuhan keadilan mutlak telah dinyatakan dalam kata-kata yang dikeluarkan dari akal manusia. Perdebatan ini dikristalkan dari tahap filsafat ke tahap ilmu kalam dalam masalah kehendak bebas dan takdir. Dalam masalah tersebut, kedua pihak dapat menunjukkan ayat-ayat Quran untuk menyokong pembicaraannya, sebagaimana telah kami paparkan dalam salah satu bab di muka.

Kedua, perguruan Yunani dengan latihan filsafatnya yang Lebih berkembang memandang akidah ortodoks tentang sifat Allah (Yang Dengar, Bicara, Lihat, Hendak, dan lain sebagainya) membahayakan, apabila dalam kenyataan tidak berlawanan dengan keesaan-Nya. Di sini perdebatan berpusat pada pasal sabda Allah; dan karena Quran adalah sabda Allah dalam satu arti, maka (sepanjang pandangan pertama) ia merupakan bentuk ketuhanan yang agak ganjil yaitu menguatkan di pihak ortodoks dan menolak di pihak lain, bahwa Quran bukan ciptaan dan abadi, dengan akibat yang lebih aneh bahwa lawan-lawan filsafat Yunani, tanpa menginsafi telah menguatkan akidah Yunani tentang logos, akal.

Dalam jumlah besar kitab-kitab pelajaran baku yang modern, kaum Muktazilah digambarkan sebagai rasionalis (pengguna akal) bahkan sebagai Free-thinker, Freidenker, 'pemikir bebas'. Hal ini telah diketahui sebagai gambaran yang salah besar. Hingga baru-baru ini keterangan yang kita dapat, selalu dari sumber ortodoks (yakni yang bersikap bermusuhan). Kaum Muktazilah dipandang semata-mata sebagai suatu partai agama pertentangan-pertentangan doktrin. Penemuan beberapa karya Muktazilah mulai menempatkan mereka dalam cahaya baru sebagai sekelompok pemikir dan guru yang telah memberikan jasanya --yang tidak ternilai-- untuk kepentingan Islam diantara penduduk negara yang telah ditundukkan Arab. Antara akidah-akidah sederhana dari kesalehan Madinah dan tradisi kebudayaan Yunani lama dan ilmu kebatinan di Asia Barat adalah suatu celah yang sulit dijembatani. Adanya celah ini menimbulkan perbedaan besar dari paham-paham berlawanan dengan paham resmi (khusus di Irak,) selama abad pertama dan kedua. Celah ini akhirnya ditutup oleh kaum Muktazilah terdahulu, pada suatu waktu merupakan muslimin tulus dan sanggup merumuskan kepercayaan Islam dalam kata-kata yang dapat diterima oleh para cerdik pandai bukan Arab.

Pergerakan Muktazilah pada akhir abad pertama mulai sebagai suatu reaksi kesusilaan terhadap ekses-ekses doktrin dan praktek kaum Khawarij yang fanatik pada satu pihak, dan terhadap kelengahan kesusilaan para ulama yang menyesuaikan diri dengan politik (dikenal dengan nama kaum Murjiah) pada pihak lain. Kedudukan doktrin mereka yang pertama digambarkan sebagai "manzilah baina manzilatain" (kedudukan antara dua kedudukan). Sedang mereka menolak desakan kaum Khawarij atas "amal" sebagai satu-satunya ukuran iman, mereka menekankan tanggung jawab mukmin terhadap penitik-beratan kaum Murjiah atas kecukupan iman tanpa mengindahkan amal. Hal itu menyebabkan mereka menekan keras atas ayat-ayat Quran yang mendesak tanggung jawab manusia dan kuasa memilih sebab tegasnya kaum Murjiah mencari perlindungan di bawah akidah qadar. Dalam asal mulanya pemimpin-pemimpin Muktazilah merupakan orang yang berkeras agama dan sederhana, lebih merupakan orang yang menggunakan akal. Ajaran-ajaran mereka sama sekali sepadan dengan (dan memang berdasarkan) Quran. Kira-kira kita tidak akan luput memandang mereka sebagai bagian paling giat dan bersemangat antara guru-guru ahli sunah ortodoks di Irak. Kadang-kadang menimbulkan sumber kebingungan bagi lawan ortodoks kaum Muktazilah bahwa Wali besar al-Hasan dari Basrah dan ahli fiqih ternama Abu Hanifah, kedua-duanya menunjukkan suatu sindiran dalam kaidah-kaidahnya yang kemudian dinamakan kecenderungan Muktazilah.

Sepanjang abad kedua, kami hanya dapat melihat kaum Muktazilah sekelibatan saja. Membukakan tabir karena menunjukkan kaum Muktazilah sebagai pemimpin-pemimpin gerakan misi yang bersemangat ditujukan khusus terhadap aliran dualisme (thanawiyah) atau bid'ah-bid'ah kaum Mani (Manichae) yang tersebar luas diantara penduduk Arab dan penduduk Aram di Irak. Besar kemungkinannya bahwa perjuangan dengan kaum "thanawiyah" itu yang membawakan kaum Muktazilah berkenalan dengan ilmu mantik dan filsafat Yunani. Gerakan besar menerjemahkan karya-karya Yunani dalam bahasa Arab, khusus pada permulaan abad ketiga, waktu selama dua puluh lima tahun pengaruh Muktazilah unggul di istana. Semua perguruan filsafat Muktazilah adalah dari abad ketiga, dan rupanya hasil kegiatan tadi.

Itulah segi aliran Muktazilah yang kami kenal dan menyebabkan mendapat bentuk gerakan ahli penggunaan akal. Perubahan dalam sifatnya yang pokok tidaklah demikian besar. Aliran masih merupakan bidang kesusilaan dan ibadat mazhab kaum beragama sederhana asli yang menjadi lebih positif dan kaku dalam sikapnya, waktu pertengkaran dengan ahli qadar memuncak. Setelah Bani Umayah jatuh, perdebatan qadar mulai kehilangan kepentingan politiknya yang langsung dan mulai bersifat perdebatan ilmu kalam dengan jumlah terbesar condong padanya, serta melawan kedudukan Muktazilah.

Adapun perguruan-perguruan filsafat semuanya atau sejumlah besar terdiri dari kelompok-kelompok kecil murid ahli kalam perseorangan, yang tidak tentu mewakili suatu himpunan akidah umum. Ahli fikir ini dengan pertolongan ilmu mantik Yunani telah mengembangkan sistem kalam baru untuk mempertahankan kedudukan itikadnya. Lama-kelamaan dengan keberanian mereka menempuh jalan ke medan metafisika. Mereka membawa bagian yang maju dari alim ulama ortodoks bersama-sama pada sebagian jalan mereka, tetapi para alim ulama ortodoks tadi berhenti. Waktu ekstremis Muktazilah mulai memaksakan doktrin Islam ke dalam tuangan paham Yunani dan mulai mendalilkan kalam metafisika Yunani, bukannya dari Quran.

Masih masuk akal bahwa sebab-sebab reaksi yang berhasil dari kaum ortodoks terhadap kaum Muktazilah hanya sedikit sekali mengenai semboyan-semboyan lahir tentang Qadar dan Quran yang tidak tercipta. Penyebab keruntuhannya yaitu kepanjangan tiga doktrin mereka. Pertama, dinamakan doktrin janji dan ancaman, menguasai ajaran peradaban praktis tentang tanggung jawab perseorangan. Karena sifat kekakuan doktrin dan usaha mereka menggunakann paksaan untuk memenangkan tujuannya, mereka menimbulkan aliran oposisi kuat yang siap sedia mengikat alasan yang dibuat-buat untuk memburukkan namanya. Banyaklah dalih yang diterbitkan oleh perkembangan filsafat dari dua doktrin mereka lainnya yang utama yakni doktrin "kesatuan" dan "keadilan". Dalam usahanya menyingkirkan segala bayangan apa pun juga paham Tuhan sebagai manusia, ahli pikir Muktazilah terpaksa memilih diantaranya suatu yang mirip kepada ajaran tentang manusia Tuhan dalam kekristenan atau suatu sistem penyangkalan niskala (abstrak) yang tidak memberikan pegangan apa pun juga kepada mukminin biasa, serta sangat bertentangan dengan gambaran pribadi Allah dalam Quran.
"Dilemparkan ke dalam samudera luas dan kebebasan penuh pikiran Yunani, angan-angan mereka telah memuai hingga titik meletus, dan lebih lagi seorang ahli metafisika Jerman, mereka kehilangan pegangan dasar kehidupan biasa dengan kemungkinan-kemungkinan yang patut dan dilepaskan ayun-terayun dalam suatu pemburuan yang galak akan keberanian terakhir dengan takrif-takrif dan qiyas mantiqi (silogisme) sebagal senjata mereka."1
Bertambah-tambah karena permulaan prinsip keadilannya mereka membina tanggapan yang belum dibuktikan ke dalam suatu paham yang mutlak, bahkan tentang Allah.
Dengan demikian, titik perpecahan telah tercapai. Dalam praktek agama sehari-hari mereka telah memperkenalkan dirinya berpegang keras pada doktrin, berkurang akan kedermawanan, kerelaan kemanusiaan, dan keluasan pikiran kepercayaan Islam yang sederhana, bahkan suka menuntut dan mengejar lawannya dalam zaman kejayaannya. Dalam ilmu ketuhanan, mereka telah menghasilkan suatu vakum, suatu kehampaan, dan lebih buruk lagi --telah menyetujui-- memberikan hasil-hasil akal manusia suatu nilai mutlak di atas kalam Allah. Kaum ortodoks dengan wajar menolak tuntutan mereka, sebab dalam agama antroposofi merupakan obat pelarut yang lebih buruk daripada antropomorfisma. Sayap kanan kaum Muktazilah dalam penyelidikannya menemukan semacam perpaduan filsafat dengan doktrin ortodoks setapak demi setapak telah berpencar dari sayap kiri yang terdiri dari kaum rasionalis, menggabungkan Yunani untuk menyokong Quran dan hadis, mereka membeberkan perguruan ilmiah ortodoks baru dan mengalahkan kaum Muktazilah atas gelanggangnya sendiri.

Kemenangan tadi tergabung dengan nama-nama al-Asj'ari menyesuaikan doktrin qadar dengan keperluan keadilan mendirikan atas ayat-ayat Quran tertentu suatu doktrin "pendapatan, perolehan", orang memperoleh tanggung jawab perbuatan-perbuatannya, meskipun perbuatan tadi dikehendaki dan diciptakan oleh Tuhan. Sifat Ilahi, alim ulama tetap pada doktrin keabadiannya, tetapi hanya dengan menggunakan prinsip Muktazilah tentang penyangkalan paham antropomorfisme. Kekakuan keadaban Muktazilah dilunakkan dengan lebih menekankan doktrin perantaraan dan aspek kepercayaan bahwa semua yang berfaedah baik, ditentang ulang pernyataan kebebasan Allah yang mutlak untuk menghukum atau mengganjar sekehendak-Nya. Akhirnya mengakui bahwa dengan "adat" Ilahi biasanya menyusul sebab-sebab tertentu, mereka menyingkirkan pembatasan yang diletakkan oleh doktrin pertalian sebab akibat dalam alam atas kemutlakan. Kuasa Tuhan dengan jalan suatu teori atomis yang kusut, mengingkari kemestian pertalian antara sebab dan akibat.

Barangkali baik juga buat Islam bahwa rasionalisme Muktazilah, setelah menunaikan karyanya dan tidak tahu dimana berhenti, telah dikalahkan. Seandainya Muktazilah unggul, disangsikan apakah gerakan rakyat yang akan kita baca dalam bab yang menyusul, menelorkan pembaharuan Islam, akan mungkin dibiarkan --sekurang-kurangnya-- diberi kesempatan dalam rangka alam ortodoks, alam kerasyidunan. Segera atau lambat kesatuan kebudayaan Islam akan mengalami perpecahan dan Islam sendiri boleh juga akan hancur karena pukulan musuh-musuhnya. Kaum Muktazilah tidak lenyap dengan sekaligus. Penganut-penganutnya masih ada, masih dikenali dengan ketegasan dalam praktek ibadatnya terutama di Basrah dan Persia Timur. Beberapa doktrin menemukan kelonggaran segar dalam masyarakat Syi'ah yang besar.

Dalam pada itu, kaum ortodoks telah memecahkan diri dalam dua golongan, kaum mutakallimun dan "ahli Hadis". Ilmu filsafat dan mantik dicurigai dalam kebaktian ortodoks. Perguruan Madinah yang lama dalam perumusan mazhab Maliki dan mazhab Syafi'i yang lebih lunak, dan dalam sayap yang ekstrim dan fanatik terdiri atas murid-murid Ahmad ibn Hambal masih tetap bersikap bermusuhan terhadap pelajaran-pelajaran yang dicemarkan oleh keaslian asing dan pertalian dengan filsafat. Di Baghdad kaum mutakallimun kadang-kadang takut pada jiwanya, hingga satu setengah abad kemudian, --lebih kurang pada tahun 1065 M.-- sistem Asy'ari ditetapkan sebagai ilmu kalam Islam sunah yang diakui, terutama karena pengaruh Wazir Persia yang besar Nizan ul-Mulk.

Barangkali, ahli sunah lebih bijaksana daripada mereka sendiri menginsafi karena salah satu hasil pemasukan dialektik Yunani (ialah pemusatan karya para sarjana dan ulama atas doktrin-doktrin dan rumus-rumus) dengan kehilangan unsur penting yaitu agama perseorangan. Apabila waktu itu tidak ada barang lain yang menyalakan api lagi, paham ortodoks tentu akan binasa sendiri dalam kemenangannya. Satu hasil tambahan perkenalan mutakallimun itu masih harus dibentangkan. Hasil tambahan tersebut memungkinkan kegiatan serentetan para ahli filsafat Arab yang tersohor pada zaman abad pertengahan: al-Kindi (m. 873 M.), al-Farabi (m. 950 M.), Ibn Sina (Avicenna, m. 1037 M.), Ibn Badja (Avempace, m. 1138 M.) dan Ibn Rusjd (Averroes, m. 1198 M.) ialah beberapa diantara Sarjana-sarjana luar biasa. Walaupun banyak diantaranya jauh dari ortodoks, pekerjaannya ialah sebuah diantara karya gemilang dari peradaban Islam. Tidak perlu kiranya di sini diterangkan jasa mereka bagi Eropa zaman abad pertengahan untuk pikiran filsafat yang langsung dan dengan perantaraan penerjemahan filsafat Yunani.

Dalam memutalaahkan pergerakan aliran-aliran harus ditekankan bahwa dengan kata "aliran" diartikan sistem-sistem doktrin dan iman Islam yang umumnya ditolak oleh kaum rasyidun dan aliran lain sebagai berlawanan dengan paham resmi. Dalam masyarakat ortodoks (rasyidun) sendiri dahulu dan sekarang masih juga terdapat beberapa "mazhab" yang berlainan (Hanafi, Maliki, Sjafi'i, dan Hambali), semuanya saling mengakui. Sebagai tambahan pembagian ini yang agak menurut hukum dalam paham ortodoks telah merembes sejumlah kebiasaan dan upacara, meskipun tidak selalu tanpa perlawanan; boleh dikatakan sebagai aturan umum. Prinsip sunah telah dipakai untuk meluaskan perbatasan kelelaan seluas mungkin. Tidak ada masyarakat keagamaan satu pun memiliki semangat Katolik ataupun lebih bersedia memberikan kebebasan luas kepada anggota-anggotanya dengan syarat bahwa mereka mengakui --sedikit-sedikitnya secara lahir-- kewajiban-kewajiban minimal kepercayaannya. Rasanya kami tidak melampaui batas kebenaran, apabila kami menerangkan disini bahwa sebenarnya tidak ada seorang dari golongan aliran tadi yang pernah dikeluarkan dari masyarakat Islam ortodoks, kecuali mereka yang menghendakinya sendiri, dan karena itu- mengasingkan dirinya sendiri.

Hal tersebutlah pasal yang menjadi cirinya kaum "aliran" (mustajilah) dalam Islam terdahulu dinamakan ahli khawarij (yang memisahkan diri). Dalam asli itikadnya mereka berbeda dengan golongan terbesar ahli sunah dalam soal-soal yang tidak penting. Mereka memisahkan diri karena praktek. Telah diperintahkan kepada tiap-tiap muslim untuk mendesak teman-temannya berbuat ke bajikan dan meninggalkan barang berdosa. Kaum ortodoks --yakni masyarakat sebagai keseluruhan-- menerima kewajiban itu dengan syarat bahwa harus dipertimbangkan keadaan-keadaan dalam melaksanakan perintah tadi. Ahli Khawarij --yang terdiri sebagian besar orang nomad dan semi nomad di Mesopotamia dan daerah perbatasan Irak-- menolak syarat tadi, dan menuntut supaya perintah dilaksanakan dalam musim dan di luar musim, bahkan dengan mengorbankan jiwa sendiri. Dengan perkataan lain, mereka merupakan ekstremis keagamaan dan sifat fanatik mereka menyebabkan pendapat mereka bahwa muslimin menanti-nantikan waktu baik, memerosotkan agama, dan mengingkari agama, sama sekali bukan orang muslim, dan hanya merupakan muslimin sejati. Bersenjata dengan prinsip ini, mereka memerangi masyarakat. Dengan demikian menempatkan diri mereka sendiri di luar batas kerasyidunan. Nasib ahli Khawarij yang terdahulu tidak mengenai kita di sini, tetapi tokoh-tokoh mereka yang lebih lunak merumuskan sistem-sistem yang hingga sekarang masih terdapat dalam masyarakat beragama sederhana dan asli Aljazair Selatan, Uman, dan Zanzibar. Sejak dahulu, Islam menolak doktrin sikap fanatik dalam agama. Kemudian dalam abad kedelapan belas dan permulaan abad kesembilan belas, kita akan menemukan ajaran yang sama dikukuhkan atas, pembaru-pembaru Wahhabi di Arabia.

Aliran lain yang penting dalam Islam --sebenarnya satu-satunya aliran yang memisahkan diri-- berlainan. Syi'ah mulai sebagai pergerakan politik diantara orang Arab sendiri. Ali ra., --putra mantu Nabi saw. dan khalifah keempat dari sejarah Islam-- memilih Kufah di Irak sebagai ibu kotanya. Waktu beliau mangkat, pusat politik Islam dipindahkan ke Siria. Oposisi Arab di Kufah terhadap Arab di Siria mengambil bentuk penghasutan orang-orang yang menuntut hak, bertujuan memulihkan hak keluarga Ali ra. atas khalifah. Lambat laun angan-angan politik itu menciptakan untuk dirinya sendiri suatu dasar doktrin yang berlawanan dengan doktrin yang diakui masyarakat yakni doktrin tentang hak yang khas mutlak dari keluarga Ali ra. atas khalifah. Doktrin itu meliputi penolakan tiga khalifah pertama, Abu Bakar, Umar, dan Uthman ra. yang dipandang sebagai perampas kuasa. Pengingkaran tiga orang sahabat yang paling dijunjung dan dihormati itu selamanya tetap merupakan dosa utama ahli Syi'ah dalam pandangan ahli ortodoks. Semua urusan lain berkenaan dengan hukum baik dalam kalam maupun ibadat, Syi'ah belum juga memiliki doktrin nyata. Syi'ah yang tersebut terdahulu meninggalkan bekas-bekas hingga sekarang di Maroko, Syi'ah dalam tata tertib politiknya, tetapi sunah ortodoks dalam kalam dan hukumnya.

Pada tingkat awal mulanya nama Syi'ah dipakai untuk menutupi sejumlah kegiatan yang sungguh-sungguh berlainan dan dipakai sebagai selimut untuk memperkenalkan dalam Islam semua macam kepercayaan Timur yang lama dari Babilonia, Persia, bahkan India. Pengislaman sejumlah penduduk asli negara-negara yang ditaklukkan mau tidak mau menerbitkan kebingungan kepercayaan agama yang luas. Hal tersebutlah yang memajukan penyebaran aliran-aliran kebatinan dan menyebabkan pergulatan agama dari abad-abad yang mula. Unsur-unsur Yunani biasanya menghubungkan diri pada oknum sunah yang merupakan partai terbesar, sedang kepercayaan-kepercayaan Asia yang lebih tua condong menggabungkan diri kepada oknum Ali ra. Sebagaimana dapat diduga kepercayaan-kepercayaan demikian dipeluk dan disiarkan terutama oleh orang bukan Arab, dan lebih khas oleh penduduk campuran dari Irak. Petunjuk-petunjuk bahwa Syi'ah dalam abad yang mula-mula diantara rakyat lebih merupakan panji-panji revolusi sosial terhadap ahli sunah yang berkuasa daripada panji-panji oposisi keagamaan terhadap doktrin-doktrin sunah. Harus diterangkan selekas mungkin bahwa pendapat yang masih kebanyakan terdapat bahwa Persia merupakan tempat asli Syi'ah adalah tanpa dasar sama sekali. Perlu dicatat bahwa penganut-penganut baru bekas Majusi umumnya lebih suka memilih kepercayaan ahli sunah daripada aliran Syi'ah.

Prinsip-prinsip yang lazim dianut umum oleh hampir semua anggota golongan yang mengakui Syi'ah bahwa sejajar dengan tafsir lahir Quran didapat tafsir gaib dan sekumpulan ilmu rahasia. Itulah yang ex hypothesi (berdasarkan hipotese) diserahkan oleh Muhammad saw. kepada Ali ra., dan oleh Ali ra. kepada warisnya. Aliran-aliran yang berpanca ragam tadi berbeda dalam menetapkan siapa yang berhak menjadi waris Ali ra. Menarik perhatian bahwa hampir tidak ada diantara aliran-aliran tersebut menggabungkan diri kepada garis keturunan langsung dari Muhammad saw. menjadi pengganti Ali ra. dalam pandangan kaum Syi'ah Arab yang menuntut hak di Kufah, akan tetapi lebih tertarik pada keturunan lain dari Ali ra. Tambahan pula, kaum Syi'ah Arab memisahkan diri dari masyarakat karena soal pimpinan politik Islam, aliran-aliran gaib lebih-lebih lagi memberikan kepada Imam --gelar yang diberikan kepada kepala umat-- suatu tugas rohani yang selamanya tidak disetujui oleh kaum ortodoks bagi khalifah. Dalam Islam ortodoks khalifah tidak memiliki tugas sebagai penafsir dan tidak dapat menentukan doktrin; ia adalah pemimpin politik dan keagamaan umat saja. Bagi orang yang berpendapat bahwa tafsir gaib hanya diketahui khusus oleh deretan imam, sumber doktrin resmi dan yang sah adalah imam sendiri. Pada suatu pihak, agamanya dipusatkan pada prinsip kekuasaan perseorangan yang mutlak; yang asing bagi teori ortodoks baik dalam urusan politik maupun urusan agama. Pada pihak lain, agamanya mengizinkan lebih luas suatu perkembangan dan penyesuaian keadaan-keadaan dari generasi yang berturut-turut di bawah pedoman teori iman yang diilhami Ilahi.

Setapak demi setapak akidah keimanan itu mengkristal menjadi bentuk kalam yang pasti. Para imam memperoleh sifat melebihi manusia, berkat keahlian gaib yang dimilikinya. Sesuai dengan filsafat cahaya dari Babilonia Lama, sifat tadi dirumuskan oleh akidah bahwa dalam para imam telah menjelma cahaya Ilahi yang turun melalui generasi-generasi nabi berturut-turut sejak zaman Adam as. Bahkan beberapa aliran Syaih sampai berani memandang Ali ra. dan para imam sesudahnya sebagai penjelmaan Ilahi sendiri, walaupun masih terdapat di beberapa bagian dunia Islam. Aliran-aliran tadi boleh dipandang di sini sebagai tanggapan yang berlebih-lebihan, dan yang tidak mewakili. Sisa-sisa yang serupa terdapat dari satu akidah lawan yang memberikan sifat-sifat yang hampir sama besarnya kepada Khalifah Bani Umayah, Jazid, dan Narwan; khusus aliran Jazidi di Irak Utara. Lebih penting ialah akibat yang dikeluarkan dari doktrin asal mula yaitu imam tanpa dosa dan tanpa salah, sebab doktrin tadi merupakan salah satu doktrin asasi kelompok Syi'ah yang lebih besar hingga dewasa ini.

Hingga sekarang belumlah terang juga tingkat-tingkat apa yang telah memadukan dua bentuk asli Syi'ah tadi yakni Syi'ah Arab didukung oleh para penuntut hak dan Syi'ah kebatinan. Tetapi abad ketiga dan keempat takwin hijrah pemaduan telah jauh maju. Keahlian gaib istimewa para imam telah diserahkan kepada keturunan Nabi Muhammad saw. dengan perantaraan Ali ra. dan putri Nabi Muhammad saw., Fatimah ra., doktrin kegaiban tadi diakui sebagai undang-undang dasar aliran Syi'ah. Jumlah terbanyak dari penganut aliran yang kecil-kecil, lenyap dan meninggalkan hanya tiga kelompok Syi'ah utama.

Dari tiga kelompok itu, maka kaum Zaidi masih berpengaruh di Yaman; berdiri paling dekat pada Syi'ah, kaum penuntut hak yang lama dan pada kaum sunah yang ortodoks. Mereka mengakui deretan imam yang tidak terputus, yang tidak dikatakan memiliki keahlian gaib. Sebagian besar aliran Imami yang sekarang menjadi agama resmi Iran dengan penganut-penganut di India, Irak, dan Siria, mengakui dua belas orang imam; yang terakhir ialah Muhammad al-Muntazar (yang dinanti-nantikan) yang menghilang lebih kurang tahun 873, dan kedatangannya kembali masih tetap dinanti-nantikan. Kelompok paling ekstrim, kaum Isma'illiyah memisahkan diri karena soal penggantian Imam keenam. Dalam abad pertengahan mereka diwakili oleh gerakan revolusioner populer, kaum Qarmati, Khilafah Bani Fatimijah di Mesir (969-1171 M.), dan cabangnya kaum Hasyasyun hingga sekarang masih mempunyai penganut yang tidak banyak di India dan tersebar di mana-mana.

Dalam waktu lampau, sistem imami tentang doktrin dan hukum berserak sangat luas dari sistem ahli sunah. Kaum Imami tentunya tidak menerima prinsip ijmak, dan apabila ketiadaan imam, maka alim ulama terkemuka yang dinamakan para Mujtahid (lihatlah halaman 73) menjalankan kekuasaan besar dalam urusan agama dan hukum. Dalam hukum keistimewaan mereka yang utama ialah memberikan izin perkawinan sementara, dan dalam ibadat doktrin tentang taqiyah atau penyamaran, suatu peninggalan kiranya dari zaman penuntutan dan pengejaran dalam abad pertengahan. Berkenaan dengan Rukun Islam, mereka hanya berbeda pada beberapa pasal kecil, tidak penting dengan sendirinya, meskipun telah dibesar-besarkan kepentingannya karena pertikaian selama seribu tahun. Pada beberapa waktu telah diusahakan memulihkan pemisahan berdasarkan pengakuan sistem imami sebagai mazhab ortodoks kelima dengan nama mazhab Dja'fari (menurut Dja'far al-Sadiq, imam keenam, yang kuasanya diakui oleh ahli sunah), tetapi percobaan ini senantiasa gagal.
Meskipun doktrin-itikadnya sebagai keseluruhan telah ditolak oleh ahli sunah, Syi'ah telah meninggalkan pengaruh besar dalam beberapa bagian pikiran dan praktek ahli sunah. Penghormatan Syi'ah terhadap Ali ra. dan keturunannya dicerminkan dalam pendirian yang simpatik terhadapnya dalam hadis-hadis secara ahli sunah. Doktrin cahaya Ilahi dan ketanpa-dosaan imam telah diambil alih dan dipakai tidak untuk Ali ra. sendiri, akan tetapi untuk pemimpinnya, Nabi Muhammad saw. Dan digabungkan dengan sebab-sebab lain memberikan dasar memuliakan Nabi Muhammad saw. secara bersemangat, sepanjang masa merupakan salah satu pengaruh rohani yang paling kuat dalam Islam Sunni. Saluran utama pengaruh tersebut beserta kenang-kenangan Syi'ah merembes kedalam sistem ortodoks merupakan pergerakan mistik yang dikenal dengan nama Sufi.

Catatan kaki: 

1 D.B. MacDonald. Development of Muslim Theology, hlm. 140.